SEJARAH PERJUANGAN PARA PROKLAMATOR
DI MENTOK - MENUMBING
Menumbing di wilayah Kecamatan Mentok suatu tempat yang bersejarah Karena tempat pengasingan Pejuang Proklamator Republik Indonesia pada masa aksi militer Belanda ke II (Clash II) di samping pemandangannya yang indah, di puncaknya ada rumah peristirahatan yang lengkap dengan lapangan tenis serta kolam renangnya.
Di Pulau Bangka tidak terdapat binatang buas seperti harimau, singa, beruang, maupun gajah, namun demikian terdapat berbagai jenis ular yang berbisa seperti ular sabak,ular tedung,ular tepung ari. Sedangkan yang lainnya adalah berjenis jenis burung, ayam hutan, rusa, berang-berang, babi hutan, pelanduk, monyet, napuh, biawak, kijang, tenggiling, buaya dan sebagainya.
Hutan-hutan besar seperti di Sumatera, Kalimantan atau Irian Jaya tidak terdapat di Pulau Bangka, namun di sini tumbuh berjenis jenis pohon kayu seperti seruk, meranti, pelawan, nyato, menderu, galam, bulin, nyirih, bakau, pelempeng dan banyak lagi yang lainnya.
Begitu pula sungai sungainya tidak ada yang besar, yang dapat digolongkan besar adalah seperti sungai Layang, sungai Baturusa, Sungai Selindung, sungai Jering, Sungai sungaiselan, sungai Kampa, Sungai Menduk, Sungai Pangkalbalam dan Sungai Kepoh.
Gunung-gunungnya pun tidak berapa tinggi hanya gunung Maras yang mencapai ketinggian 700 m, sedangkan yang lainnya seperti gunung menumbing 445 m, gunung Mangkol 347 m, gunung Permis 453 m dan gunung Puding 510 m.
PENGASINGAN PARA PAHLAWAN PROKLAMATOR
DI BANGKA
Pada Tanggal 18 Desember 1948 Belanda mengadakan agresi militer ke II menyerang Ibukota Republik Indonesia, pada waktu itu berada di Jogjakarta, hampir semua Pemimpin Indonesia ditawan oleh Belanda, kedatangan pemimpin-pemimpin Indonesia yang diasingkan belanda ke Bangka khususnya di Mentok dalam tiga gelombang .
Gelombang Pertama :
Pada bulan Desember 1948 itu juga dengan satu pesawat terbang Bung Karno, Bung Hatta, H. Agus Salim, Sutan Syahrir, A.Gani Pringgodigdo, Mr.Assaat, Com.Suryadarma, tiba di lapangan terbang Kampung doel (Depati Amir). Turun saat itu hanya : Bung Hatta, A.Gani Pringgodidgdo, Mr.Assaat, Com. Suryadarma mereka langsung mobil dibawa ke Menumbing Mentok. Sedangkan Bung Karno, Haji Agus Salim dan Sultan Syahril meneruskan perjalanan ke Prapat ( Sumbar)
Gelombang kedua :
Pada Bulan Desember 1948 itu juga datang Mr. Ali Sastroamidjoyo, Mr.M.Roem di bawa juga ke Menumbing Mentok Bangka.
Gelombang ketiga :
Kemudian pada bulan Pebruari 1949, Bung Karno dan H. Agus Salim baru datang ke Mentok Bangka terus ke Pesanggrahan (Wisma Ranggam), bukan diasingkan di Menumbing. Pemisahan Bung Karno dengan Bung Hatta disengaja agar kedua tokoh tersebut tidak bertemu karena Belanda tidak ingin ada gerakan lagi setelah mereka dipisahkan. Pemikiran kedua tokoh itu bila bertemu akan menghasilkan hal – hal yang akan merugikan pihak Belanda.
Jumlah para Pemimpin Indonesia yang diasingkan/ditawan Belanda di Gunung Menumbing berjumlah 7 (tujuh) orang sedangkan Bung Karno tetap di Pesanggrahan. (Wisma Ranggam) Mentok.
Belanda mengasingkan atau menawan para Pemimpin-Pemimpin Indonesia ke Bangka khususnya di Mentok, Belanda menganggap rakyat Bangka di Mentok ini kurang perlawanannya terhadap pihak Belanda, kurang mengerti Politik. Itulah sebab maka para Pemimpin Indonesia di asingkan ke Bangka. Namun Belanda salah perhitungan, Masyarakat Mentok tidak tinggal diam dengan kedatangan para Pemimpin Indonesia itu.
Pada waktu itu Bangka Belitung dikuasai oleh Pemerintah Belanda dan kebetulan ditunjuk oleh Belanda yang menjadi kepala Pemerintah ( Bestuur Hoofd ) seorang Bangsa Indonesia bernama K.Z Abidin dengan Pangkat Controleur, menguasai wilayah Bangka Barat.
Di puncak bukit Menumbing para pejuang proklamator Indonesia dijaga oleh militer Belanda dan dipasang kawat berduri, layaknya tawanan perang. Yang boleh melihat ke Menumbing hanya Kepala Pemerintahan, selain dari itu tidak diperbolehkan oleh Komandan Militer Belanda. Pada suatu hari K.Z Abidin dengan seragam Bestuur Hoofd (Kepala Pemerintah) dengan pangkat Controleur, mengunjungi Menumbing menemui Pemimpin – Pemimpin Indonesia, kedatangannya keatas puncak ingin menceritakan mengapa mau menjadi Kepala Pemerintahan dalam kata lain bekerja untuk pihak Belanda, padahal perang kemerdekaan saat itu sedang berkecamuk, alasannya sebagai orang yang paham dalam bahasa belanda juga bisa mengabdi membantu para Pemimpin yang diasingkan dan dengan demikian siap diperintah apa saja buat keperluan Pemimpin – Pemimpin Indonesia. ( Ini bisa dilihat dari foto-foto dokumen kegiatan para pemimpin Indonesia, Kemas Zainal Abidin selalu berada disamping para pejuang proklamator baik Bung Karno maupun Bung Hatta dan lainnya di meseum BTW Mentok).
Kemudian Kemas Zainal Abidin mulai melakukan gerakannya, Dengan resiko apapun KZ. Abidin menyelundupkan kertas tik. Mesin tik dan lain-lainnya ke Menumbing, bahkan juru tiknya A. Muthalib Pegawai Pemerintah diselundupkan.
Pada suatu hari dengan seragam Bestuur Hoofd Kemas Zainal Abidin menghadap Komandan Militer Belanda, dan mulai melaksanakan gerakan terselubungnya dalam membantu para Pemimpin yang sedang di tawan / diasingkan diatas Puncak Bukit Menumbing, karena kalau tidak dilakukan lama kelamaan penyelundupan alat-alat tulis dan lainnya bisa ketahuan, maka dia mencoba membujuk Komandan Militer dengan mengatakan :
“Tuan percaya kepada saya. Oh.. tentu saya percaya Controleur. Nah..kalau percaya kepada saya, tarik itu militer yang menjaga para Pemimpin pemimpin Indonesia. Tentu saja ucapan yang diucapkan dengan bahasa Belanda dengan fasih.
Permintaan Kemas Zainal Abidin ternyata di Kabulkan, Militer Belanda tidak lagi menjaga para Pemimpin Indonesia baik di Menumbing maupun di Pesanggrahan. Para pemimpin itu malah dibolehkan turun dari Bukit Menumbing tempat pengasingannya ke Pesanggrahan ( Wisma Ranggam ) di mana Bung Karno di tempatkan. Kadangkala para pemimpin itu singgah ke rumah dinas Kemas Zainal Abidin, disitu pula secara diam-diam para pemuka masyarakat maupun Pemuda / Pemudi bertemu dengan para pemimpin-pemimpin Indonesia.
Pada suatu kesempatan, Bung Karno, Bung Hatta serta para Pemimpin lainnya diajak makan bersama di rumah dinas K.Z Abidin. Padahal menurut perjanjian antara Komandan Militer Belanda dengan Bestuur Hoofd (Kepala Pemerintahan), Bung Hatta dan Para Pemimpin lainnya itu boleh turun dari Menumbing, tetapi tidak boleh berbicara dengan rakyat, perjanjian ini juga berlaku bagi Bung Karno. Hal ini tentu tidak bisa dicegah dan Bestuur Hoofd Kemas Zainal Abidin sengaja tidak mencegah para pejuang Proklamator untuk bertemu dan berbicara dengan rakyat dan akhirnya pihak Komandan Belanda membiarkan kebebasan itu dan hanya boleh di dalam Mentok saja.
Pada suatu hari PORI (Persatuan Olah Raga Indonesia) dan Masyarakat Mentok serta keluarga Kemas Zainal Abidin mengadakan perjalanan ( Napak Tilas ) dengan Bung Karno serta pemimpin Indonesia lainnya dari : Kp. Tanjung melalui Mentok Asin menyusuri pantai terus ke Mercu suar Tanjung Kalian.
Di gedung Mercu Suar itulah untuk pertama kali Bung Karno berpidato membangkitkan semangat rakyat, di sambut rakyat / masyarakat dengan gegap gempita.
Semakin lama pihak Belanda juga sudah mulai tidak memperhatikan tingkah laku para tawanan, mereka mempercayakan sepenuhnya kepada Kemas Zainal Abidin sebagai penanggung jawabnya.
Menurut keterangan Kemas Rusdi Abidin anak K.Z. Abidin, bahwa orang tuanya selalu disamping Bung Karno, kemana saja Bung Karno pergi selalu disopiri / dikawal oleh K.Z Abidin dengan mobil dinas BN. 96. Bukan BN. 10 yang ada sekarang di Hotel Menumbing. Layaknya pemimpin yang selalu dekat dengan rakyatnya, Bung Karno diceritakan pernah menjadi saksi pernikahan Abang Yusuf Rasyidi.
Bung Karno dan Bung Hatta serta para pemimpin lainnya menjahit baju ke penjahit yang dikenal dengan nama Hasyim Bidin. Sedangkan untuk bahan baju dibelikan oleh tokoh masyarakat A. Kadir Bachsin.
Kamar tidur tempat tinggal Bung Karno selama ini hanya ada di Pesanggrahan (Wisma Ranggam). Dan tidak ada kamar khusus atau lainnya seperti di menumbing. Sedangkan Bung Hatta memang memiliki kamar khusus di menumbing.
Sedangkan juru foto pada waktu itu dikenal adalah Raden Panji dan A. Zulkarnain. Dibantu asistennya M Isa Jamaludin.
Jiwa merakyat bagai orang Desa sangat melekat pada pemimpin terdahulu, mereka bagaikan rakyat biasa, malah Bung Karno, Bung Hatta serta beberapa pemimpin Indonesia itu pernah diajak oleh K.Z Abidin kepemandian air terjun, namun sayangnya Bung Karno dengan Bung Hatta tidak turut mandi, yang ikut mandi hanya Comodor Suryadarma, Mr. M. Roem, Mr. Ali Sastroamidjoyo dan Mr. Assat. Mereka berombongan mengendarai sedan ford berplat BN 96, dan BN 1886, Untuk supir mobil plat nomor BN 96 disopiri oleh K.Z Abidin.
Menurut Kemas Rusdi Abidin, kini cerita mengenai perjalanan serta kegiatan juga hal-hal lainnya yang dilakukan oleh para Pemimpin yang diasingkan di ceritakan sebagian orang yang mengaku tokoh sejarah atau budaya sudah banyak melenceng dari kebenarannya, sehingga generasi baru sampai saat ini tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, maka Kemas Rusdi Abidin (80) tahun selaku saksi sejarah perjalanan orang tuanya sendiri, tentu berkeinginan agar sejarah itu dibuat terang dan jelas, sehingga tidak menimbulkan pro kontra didalam masyarakat itu sendiri, tidak hanya masalah sejarah jaman Pemimpin Proklamator saja yang dibuat melenceng namun sejarah cikal bakal mulai melayu johor berkuasa saja sudah salah tidak sesuai, ini hanya gara-gara penulis tidak mencari kepada nara sumber yang berhubungan langsung dengan tokoh cerita.
Semangat perjuangan para tokoh masyarakat, tokoh pemuda tercermin dalam antusias mereka yang selalu berhubungan dengan Pemimpin Indonesia yang di asingkan di Mentok, Kemas Rusdi Abidin sangat mengenal para tokoh-tokoh di Mentok yang selalu berhubungan dengan Pemimpin Indonesia ketika diasingkan di Mentok. Walau sebagian sudah tiada namun semangat mereka perlu dicontoh bagi generasi penerus nantinya, Seperti nama-nama dibawah ini ;
Tokoh Masyarakat Kaum Pemuda : Kaum Pemudi :
Nur Aliya Abang Yusuf Rasyidi Norma Musa
Hasan Ali Abang Abu Bakar Maharani Sayuti
Abang M.Yasin Abang Syukuri Rasidi Nurhayati Hasan
Ramli Ahmad Abdul Kadir Bachsin R.A. Indrawati
Abang Athaillah Hasan Basri Sulaiman Asmanah
Abang Anwar M. Isa Ali Salmanah Sulaiman
R.M. Suhartio Makarim Usman Yang Kalsumi Rasyidi
M. Zuhro Ishak Alimbar Hasnah Idris
K. Doeri Abdullah Jamaluddin Rogayah Idris
Abdul Kadir Ali A. Rifai Latif Yang Alwiyah Junaidi
Syamsudin Djufri Hamid Jamalludin Yang Rokiyah
Ismail Syamsir Abang Abu Hurairah Sofiah Daud
Haji Saleh Bujang Murzab Maimunah Walir
Hundarni Nuraini Kadir
Rojali Said Azah Yusuf
Johan Said Yang Rusmiah
Para Wanita : Mukti Ismail Erna Abidin
Rohani Yasin Abang Junaidi Muhamad
Mahani Azhar Saleh
Chodijah Ali M.Isa Jamaluddin
Chodijah Rasyid Zulkifli Sulaiman
R.A. Sri Suhartio Abd. Rachman Shahab
Zuraidah Anwar Ramli Agus Rani
Fatimah Musa Abdul Hamid Sani
Rika Doeri
Azizah Tahir
Yang Nuraiti Abidin
Mereka yang tertera diatas baik tokoh Masyarakat, tokoh pemuda sebagian besar bergabung di Muhammaddiyah / Aisyah. Persatuan Olah Raga Indonesia (PORI) dan Kepanduan Indonesia serta Organisasi Partai, terutama Partai Nasional Indonesia. 3 bulan sebelum Pemimpin-pemimpin Indonesia akan pulang ke Yogyakarta, rakyat atau masyarakat Mentok mencari kesempatan untuk bertemu dan berbicara dengan pemimpin-pemimpin Indonesia, baik di Pesanggrahan, Menumbing maupun di rumah dinas K.Z Abidin. Sebagai kepala pemerintahan Belanda, Kemas Zainal Abidin dianggap sedikit telah berkhianat kepada pemerintah Belanda dan sudah dianggap berlebihan bagi (Komandan Militer Belanda), K.Z Abidin rencananya akan ditangkap oleh Komandan Militer Belanda tetapi keburu penyerahan kedaulatan.
Keadaan masyarakat Mentok dahulu ketika para pemimpin-pemimpin Indonesia di asingkan/ditawan oleh Belanda. Mereka telah menunjukkan kebersamaan dan patriotisme demi kemerdekaan Bangsa dan Negara. Meskipun sebagian besar diantara mereka telah meninggal dunia patut menjadi kenangan serta kebanggaan tersendiri bahwa Tokoh Masyarakat dan Pemudanya menunjukkan kesetian dan kecintaan kepada Pemimpin-pemimpin puncak Republik Indonesia.
Sepulangnya Pemimpin-pemimpin Indonesia ke Jogjakarta pada bulan Juli 1949 Bangka Belitung tetap masih dikuasai oleh pemerintah Belanda

Tidak ada komentar:
Posting Komentar